Wawancara dengan ME

Johanes Danang Widoyoko | Dari Insinyur Menjadi Aktifis

Johanes Danang Widoyoko | Dari Insinyur Menjadi Aktifis

Posted by: MEasia June 19, 2013 in FamousMEinterview Leave a comment

Orang hanya percaya pada KPK. Sampai sekarang hanya KPK masih bisa diandalkan. Semua kasus korupsi dilaporkan ke KPK, tidak dilaporkan ke polisi dan jaksa. Di sisi lain, sumber daya KPK dipegang oleh DPR.”

MEasiaMagazine.net – Sebagai aktivis anti korupsi Johanes Danang Widoyoko sudah siap dengan segala risiko yang akan menimpa dirinya. Termasuk teror dan pembunuhan. Semunyanya ia jalani dengan tenang.

Dengan latar belakang gelar sarjana Teknik Elektro yang disandangnya, Johanes danang Widoyoko justru memilih terjun di dunia lembaga swadaya masyarakat (LSM), yakni di Indonesia Corruption Watch (ICW). Meski tidak memberikan jaminan materi berlimpah, ia tetap setia memilih hidup di jalur itu.

Sebelum aktif di ICW, pria yang seharihari disapa danang ini bekerja sebagai peneliti di Yayasan Percik, Salatiga. Lalu, pada 2000 ia hijrah ke Jakarta dan bergabung dengan ICW. Pada awalnya ia membantu penelitian-penelitian, serta ikut berbagai kegiatan ICW.

Ia bangga bergabung dengan ICW, meski pilihan itu mengandung banyak resiko. Menurut pria kelahiran Rembang, 8 Maret 1973 ini, “Semua pekerjaan ada resiko, termasuk menjadi wartawan dan rakyat kecil.” Ketertarikan danang pada LSM berawal ketika ia masih kuliah. Meski saat itu statusnya sebagai mahasiswa Teknik Elektro Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah – yang seharusnya berkutat di lab komputer. Namun dalam kesehariannya, danang justru sibuk di dunia pergerakan dan pers kampus. Layaknya aktivis mahasiswa, ia getol mengkritisi segala macam kebijakan kampus yang dinilainya tidak benar.

Hingga pada 1994, terjadi kisruh pemilihan rektor di tempatnya menuntut ilmu. Akibatnya, salah seorang dosen, yakni Arief Budiman, yang juga dikenal sebagai aktivis mahasiswa 66 dipecat dari kampus tersebut. Sebagai bentuk protes, danang menggalang rekanrekannya untuk melakukan aksi mogok kuliah.

Bagi koordinator ICW ini, Arief Budiman merupakan sosok dosen pintar dan berani. Setiap kali Arief menjadi pembicara seminar atau diskusi, danang sering mengikutinya, sebab – gagasan dan pandang Arief memberikan pencerahan bagi dirinya.

ICW sendiri, kata danang, telah memberikan persepsi baru tentang LSM. Selama LSM hanya bermodal keberanian. “Kalau kami di ICW modalnya data, itu yang menjadi alat kita dalam membongkar kasus korupsi,” tambah suami Yosephine dian Indraswari ini dengan nada bersemangat.

Lulusan S2 jurusan sosiologi ini berharap, keberadaan ICW bisa membantu atau mengurangi kasus korupsi. Apakah itu bisa? Berikut petikkan wawancaranya dengan Majalah measia di sebuah kafe bilangan Sabang, Jakarta – beberapa hari lalu.

Salah satu penyebab kemunduran indonesia karena korupsi. menurut anda kenapa penanganan korupsi di indonesia sulit diurai?
Banyak faktor yang penyebab kenapa korupsi sulit diselasaikan. Pertama, masih banyaknya oknum-oknum nakal, karena moralitas dan agama mereka rendah, hingga dilakukan training moralitas dan agama. Tapi setelah pelatihan, mereka tetap saja korupsi.

Kedua, karena gaji birokrasi rendah. Lalu bagaimana dengan anggota dPR yang gajinya sudah puluhan juta rupiah, namun tetap korupsi? Begitu pula dengan beberapa pegawai negeri yang gajinya sudah dinaikan, tapi tetap korupsi.

Ketiga, penegakan hukum yang lemah. Harus diakui bahwa penegakan hukum di negeri ini masih lemah. dari tatanan nilai dan pranata hukum, kita sudah cukup bagus, pelaksanannya masih lemah.

Bagiamana dengan prilaku masyarakat – apakah ikut mempengaruhi keberadaan korupsi di indonesia?
Secara konsep sosial, kesadaran praktis ikut mempengaruhi perkembangan korupsi di negeri ini. Kesadaran praktis adalah perbuatan yang secara sadar dilakukan manusia dan dilakukan secara berulangulang. Begitu pula dengan tindakan korupsi, dilakukan secara sadar dan berulangulang hingga menjadi tindakan nan wajar dan normal, sebab sudah berlangsung bertahuntahun.

Dibadingkan orde baru – kasus korupsi sekarang jauh lebih besar dari pada orde baru?
Pandangan itu bisa benar. Namun tidak ada yang tahu, seberapa besar korupsi yang dilakukan Orde Baru? Pasalnya, pada masa itu tidak ada media massa yang berani memberitakan kasus korupsi. Takut di bredel, Majalah Tempo saja di bredel. Yang paling menarik adalah praktek kecurangan dalam pemilu. Fenomena seperti itu sudah berlangsung sejak Orde Baru.

Pada kehidupan sehari-hari, korupsi juga terjadi. Misalnya dalam mengurus KTP dan SIM, rakyat harus bayar lebih. Di sini posisi rakyat sangat lemah mereka tidak berdaya, karena butuh mereka terpaksa membayar.

Lalu, langkah-langkah yang harus dilakukan buat menghilangkan korupsi?
Menghilangkan kebiasaan korupsi. Umpamanya kebiasaan pemilihan ketua partai politik. Setiap kongres, partai politik menyediakan biaya hotel, transportasi, akomodasi dan uang pada anggotanya.Caracara seperti itu sudah terjadi ketika elit partai masih menjadi mahasiswa. Ketika kongres organisasi kemahasiswaan, mereka minta sumbangan pada senior, setelah dana terkumpul dialokasikan buat kongres, termasuk membiayai kebutuhan peserta  tujuannya adalah mempengaruhi peserta.

Setelah menjabat sebagai anggota dPR atau elit partai. Kebiasan berorganisasi waktu kuliah, tetap mereka bawa. Ketika mau kongres, minta dana ke lembaga atau perusahaan, dan menyogok angota supaya memilih dirinya. Mereka tidak sadar, bahwa mereka sudah menjadi pejabat publik, alhasil terjerat sama KPK.
Menyadarkan masyarakat bahwa korupsi adalah pembuatan kriminal dan kejahatan luar biasa. Setelah itu melakukan penegakan hukum secara benar. Jangan sampai penegak hukum ikut korupsi. Namun realitas berkata lain, banyak penegak hukum seperti jaksa, polisi dan hakim terlibat korupsi.

Begitu besar kasus korupsi yang terjadi di negeri ini. apakah kpk bisa menanganinya?
Minta anggaran penambahan gedung saja tidak kasih oleh dPR. Kita sampai saweran. Malah dPR berencana akan memangkas dana buat KPK. Bahkan kewenangan penyadapan KPK, rencananya mau dihilangkan. Pada hal wewenang penyadapan tidak saja dimiliki KPK, polisi dan jaksa pun punya. Cuma tidak mereka gunakan. Mudahmudahan tidak diunakan buat menyadap kita.

Seberapa besar harapan masyarakat pada kpk dalam penanganan korupsi?
Sangat besar. Sekarang orang atau rakyat hanya percaya pada KPK. Sampai sekarang hanya KPK bisa diandalkan. Jangan heran bila kasus korupsi hanya dilaporkan ke KPK, tidak dilaporkan ke polisi dan jaksa. di sisi lain, sumber daya KPK dipegang oleh dPR. dalam bekerja, KPK

sudah punya sistem yang jelas. Kasus sprindik misalnya, sistem KPK langsung bekerja. Ketua KPK langsung disidang. Sangat luar biasa, dulu ada komite etik memeriksa Chandra Hamzah yang dituduh Nazarudin menerima uang, kemudian tidak terbukti.

Kepercayaan masyarakat pada KPK tidak datang secara tiba-tiba. dibangun secara bertahap, dan memakanwaktu cukup panjang. Itu yang membuat lembaga ini selalu dipercaya.

Orang kaya, setelah kaya baru berdarma – sementara saya berdarma sebelum kaya. Orang kaya takut miskin, saya tidak takut miskin. Tidak ada yang perlu kita takuti dalam hidup ini.

Menurut anda, bagaimana posisi dan kekuatan kpk selama di bawah kepemimpian abraham samad?
Ada kemajuan, dulu jenderal tidak pernah ditangkap, sekarang sudah ada jenderal yang ditangkap. dulu tidak ada menteri menjadi tersangka, sekarang ada menteri jadi tersangka.

Abraham Samad tipe pemimpin pemberani, mungkin karena ia berasal dari Makassar.

Komiteran antara pemimpin KPK pun cukup kuat. Meski demikian kita jangan mengandal KPK saja. Masyarakat dan pemerintah harus ikut andil. SBY sebagai atasan menteri, kejaksaan dan polisi – sebenarnya punya kuasa di wilayah pencegahan. Semestinya SBY tidak menyerahkan semua kasus korupsi pada KPK.

Dalam hal ini mana posisi icw?
ICW dirikan pada awal reformasi. Sebelum berdiri sendiri, dulu satu kantor sama LBHI, berada di divisi korupsi. Seiring perjalanan waktu, mencoba mandiri dan melepaskan diri, lalu lahirlah ICW. ICW lahir ketika semangat penghapusan KKN sedang menggebu-gebu. dari sisi lain negara mendapat desakan agar membantuk lembaga pemberantas korupsi, yaitu KPK.

Lalu langkah dan tindakan apa yang dilakukan icw dalam pemberasan korupsi?
Memberikan informasi pada masyarakat dan pembongkaran kasus korupsi. Secara fungsi kita tak punya wewenang seperti yang dimiliki KPK.

Kami hanya bisa memberikan saran dan rekomendasi pada pemerintah tentang korupsi dan penanganan. Membuka ruang-ruang dialog dengan pemerintah. Terlibat dalam pembahasan undang-undang korupsi. Selain itu melakukan pengawasan.

Dalam membongkar kasus dan pendidikan, kita punya teman profesional yang ahli dibidangnya masing-masing. Kita punya teman ahli tender. Mereka sangat mengerti selukbeluk tender. Kita punya teman di bidang perbankan, dan ahli pajak. Mereka selalu kita ajak saat membadah kasus atau menyelesaikan kasus korupsi.

Selain penyadaran, kegiatan apa lagi yang dilakukan icw? Mengajak anak muda dan mahasiswa untuk ikut memerangi korupsi. Sebelumnya, mereka diedukasi. Agar mereka mudah mengerti, kita menggunakan bahasa sederhana, musik, media sosial dan bahasa populer. Kita juga membuat album inde tentang korupsi. Melalui musik, kita mengajak mereka supaya mau melakukan pelawanan terhadap korupsi.

“Memberikan informasi pada masyarakat dan pembongkaran kasus korupsi. Secara fungsi kita tak punya wewenang seperti yang dimiliki kPK. Kami hanya bisa memberikan saran dan rekomendasi pada pemerintah tentang korupsi dan penangan.”

Kenapa anda memilih profesi menjadi aktivis yang bergerak di bidang korupsi?
Waktu kuliah – saya aktif dipergerakan mahasiswa. Sering mendengarkan ceramah Arief Budiman dan George Junus Aditjondro. Mereka sering berbicara soal pemerintah dan korupsi. Saya sangat atusias mendengarkan mereka berbicara.

Arief Budiman sosok ilmuan yang sangat mengerti soal pembangunan, sementara George Junus Aditjondro ahli perlawanan sosial. Gagasan mereka menjadi menginspirasi saya untuk terlibata dalam perubahan di negeri ini.

Selain itu, saya senang membaca buku politik dan filsafat, diantaranya karya Micheal Fuko seorang ahli pos modernisme. Kecurigan Micheal Fuko sama kekuasaan menjadi kenyataan. Zaman reformasi saya terlibat pergerakan mahasiswa, dan ikut mengadvokasi masyarakat.

Tidak takut resiko yang akan menimpa diri anda, sebab pekerjaan yang lakoni cukup berbahaya?
Semua pekerjaan punya risiko, termasuk wartawan. Tidak sedikit wartawan yang meninggal dalam tugas. Bagi saya teror sudah menjadi hal biasa, bahkan salah satu teman ada yang dibacok. Waktu itu sempat sok. Zaman reformasi, era terbukaan – masih ada yang berani melakukan kekerasan. Korbannya orang ICW lagi, dan kejadiannya di Jakarta pula. Tindakan yang sangat berani.

Berbicara masalah resiko, lebih berat risiko rakyat Ngomong-ngomong apa yang anda lakukan di waktu senggang?
Membaca, setiap libur saya manfaatkan buat membaca. Sesekali olahraga, main batminton dan footsal bersama teman-teman. Untuk buku saya senang buku-buku politik dan teori-teori sosial, kadang baca novel, tapi tidak begitu sering.

Masalah percintaan, di mana anda bertemu dengan sang istri dan apa alasan anda memutuskan ia menjadi pendamping?
Kita sama-sama aktivis. dulu setiap kali demo kita sering bertemu. Sejak itu terjalin hubungan nan baik. Berhubungan samasama aktivis – komunikasi terus terbangun dan cukup menyenangkan. Merasa cocok langsung kita beranikan diri melangkah ke jenjang pernikahan. Sebagai istri ia sangat paham profesi yang saya pilih. Tidak pernah mengeluh, itu yang membuat sayang senang sama dirinya.

Kenapa tidak mau jadi pekerja profesional yang secara ekonomi lebih menjanjikan?
Saya merasa lebih kaya dari orang kaya. Orang kaya, kaya baru berdarma – sementara berderma sebelum kaya. Orang kaya takut miskin, saya tidak takut miskin. Tidak yang perlu kita takuti dalam hidup ini.

istri tidak pernah kuatir atas keselamatan diri anda?
Kalau pulang malam baru ia kuatir. Takut kenapa-kenapa di jalan. Apa lagi jika batere HP lobet, hingga sulit dihubungi, biasanya langsung bertanya sama teman-teman. Tapi istri saya relatif mengerti kok. Orangtua kadang ikut kuatir, itu bentuk rasa kasih sayang orangtua sama anaknya. Wajar bila selalu menanyakan keadaan anaknya, termasuk keselamatan anak.

Kecil dari pada saya. Setiap hari mereka naik kereta api ekonomi – risiko hidupnya lebih berat, yaitu jatuh dan mati. Saya sendiri pernah mau jatuh dari kereta api ekonomi, karena dempet-dempetan dan penuh. Saya bergelantungan di pintu. dari dalam ada yang mendorong hingga saya terdorong ke luar, satu kaki saya sempat jatuh. Untung saja saya tidak jatuh. Sejak itu jadi takut naik kereta api ekonomi.

Text by : Ajo Chaniago Photographer by : Dhodi Sjailendra

Categories: Wawancara

Leave a Reply