Wawancara Majalah Dewi

Danang Widoyoko

June 5, 2012 by rustika herlambang

Universitas Kehidupan

danang widoyoko

Ia menikmati dunia yang penuh tantangan sebagai sarana untuk meraih ilmu langsung dari universitas kehidupan

Suasana terasa ramai di kantor Indonesia Corruption Watch (ICW) siang itu. Puluhan anak-anak muda tengah berkumpul, bercengkerama, berdiskusi, dan melakukan kliping tentang korupsi. Mereka adalah volunteer yang tengah memelajari dunia korupsi di Indonesia. Terik matahari yang memasuki ruangan melalui celah-celah atap dan jendela tidak sedikitpun mengurangi kehangatan. Koordinator ICW, Johanes Danang Widoyoko, tampak bangga memperlihatkan aktivitas tersebut. Kesadaran harus ditumbuhkan di kalangan generasi muda.

Pertemuan ini terjadi kala konsentrasi Danang disibukkan oleh seleksi Komite Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Ia bicara menggebu-gebu tentang Pemilu dan keberlangsungan negeri ini. Kalimat-kalimatnya diucap dengan sangat cepat. “Sangat penting terlibat dalam agenda ini karena KPU adalah salah satu muara korupsi politik di Indonesia,” ia mengungkapkan kegelisahan akan adanya perkembangan reproduksi korupsi yang semakin menjadi-jadi. Model korupsi itu tidak hanya berhenti untuk memperkaya diri sendiri. Jauh dari itu adalah untuk memperkaya partai dengan tujuan partainya menang. “Orientasinya kekuasaan,”ujarnya.

“Apabila tidak was-was nanti akan ada lagi kasus-kasus Bank Bali, Bulog gate, cek pelawat, bank Century. Sementara Angelina Sondakh dan Nazaruddin masih muda. Kalau tidak diselesaikan, jangan-jangan di masa anak saya nanti politisinya seperti mereka, waah…,”katanya, membuka ruang lain dalam kehidupannya. Rupanya alasan bergabung di lembaga antikorupsi bukan sekadar bernafsi-nafsi menyalurkan idealisme pada bangsa, namun juga alasan personal yang tak bisa dinafikan: keluarga, dan terutama masa depan anak semata wayang yang namanya minta dirahasiakan demi keamanan.

Danang lahir di sebuah desa di kecamatan Sale, Rembang, tigapuluh sembilan tahun lalu. Ia besar dalam lingkungan masyarakat yang guyub di kawasan hutan jati. Masa kecilnya menyenangkan dan eksploratif: mencari belalang kayu, entong, ungker, jangkrik, dan belut di sawah. Kesederhanaan dan kejujuran ia pelajari dari ayahnya, seorang pegawai kecamatan. Sementara kemauan yang keras untuk maju dan sifat keras kepala, katanya, menurun dari sang ibu, seorang bidan yang memiliki beberapa usaha ternak ayam dan sawah. ”Kalau sudah ada kemauan pasti ia memperjuangkan habis-habisan,” sulung tiga bersaudara, satu-satunya lelaki, tersenyum, mengisahkan ibunya. Cita-citanya: menjadi insinyur, seperti harapan orangtua.

Ia tempuh harapan melalui pendidikan di Jurusan Teknik Elektro, Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga. “Terus terang, inspirasi saya kuliah di sini karena ada Arief Budiman, Ariel Heryanto, dan George Aditjondro,” katanya. Ia ingat pesan sang ayah, kelak ia tidak hanya berguna untuk keluarga, namun juga bangsa. Di kampus, Danang mulai tertarik dan memasuki dunia jurnalistik. Ia mengelola majalah kampus “Imbas” – yang namanya diambil dari gelombang medan magnet – namun berisi artikel yang diangkat dari pelbagai persoalan sosial, termasuk mengkritisi kebijakan kampus.

Kehidupan yang awalnya berlangsung lancar itu tiba-tiba terguncang kala persoalan internal kampus mengakibatkan Arief Budiman dan George Aditjondro dipecat dengan tidak hormat. Situasi ini sungguh menampar Danang. Ia tidak mengira demostrasi yang dilangsungkan untuk kehidupan kampus yang lebih baik itu justru ditanggapi dengan sikap otoriter penguasa kampus. Ketidakadilan yang ada di depan mata membangkitkan nuraninya untuk melawan. Itulah titik perubahan terbesar dalam hidup. “Saya mengorganisir pemogokan kuliah selama setahun, untuk pertama kalinya,” tegasnya. Baginya, Arief Budiman seperti juru bicara hal yang selayaknya disuarakan warga kampus. “Dia rendah hati, baik, dan bahkan saat dipecat tetap meminta kami untuk melanjutkan pendidikan, membuat kami total mengorganisir gerakan.”

Saat mogok kuliah, ia justru mendapat ‘mata kuliah’ khusus. Ia aktif dalam berbagai diskusi intensif tentang sosialisme, marxisme, kapitalisme, langsung dari Arief Budiman. Ia berkenalan dengan gagasan postmodernisme, Jaques Derrida, Michel Foucault dari Ariel Heryanto. Ia juga memelajari gerakan sosial dari George Aditjondro. Persentuhan dengan dunia baru ini memberikan pencerahan padanya. “Ilmu-ilmu itu ternyata justru banyak menginspirasi saya,” ujar Danang yang langsung kehilangan hasrat kuliah. Namun demi kebanggaan ayahnya, ia memaksa diri menyelesaikan pendidikannya.

Meski sempat  mempergunakan kemampuan pendidikan dalam bidang teknik, Danang lebih menikmati pekerjaannya di LSM Yayasan Persemaian Cinta Kemanusiaan (Percik) di Salatiga selulus kuliah. Pekerjaannya adalah mengelola publikasi, membuat bulletin dan majalah. Dunia aktivis, menulis, dan investigasi yang ditekuni semasa kuliah kadung membuat ia jatuh cinta. Tiga hal ini tidak ingin dilepaskan dari karier yang diinginkannya. “Terus terang, saya hanya berpikir bekerja di dua tempat saja. ICW dan Majalah Tempo. Ternyata saya lebih dahulu diterima di ICW. Andai yang terjadi sebaliknya, saya tak tahu apa yang terjadi kini,”ia tertawa.

“Apa sih yang lebih menantang dari pekerjaan di ICW?,”ujarnya menegaskan. Lembaga antikorupsi ini telah ‘memaksa’–nya memelajari segala hal yang baru, khususnya dalam bidang korupsi yang terus menemukan bentuk-bentuk baru. “Korupsi terjadi di pelayanan publik, politik, pajak. Itu wilayah baru dan saya belajar dari nol untuk hal yang sama sekali baru,” kalimatnya mengingatkan pada laman blog pribadinya: belajar dari universitas kehidupan. Perjalanan masa lalu yang dianggapnya datar, membuat ia perlu sebuah tantangan. Di ICW ia menemukan tantangan-tantangan itu. “Saya sadari, tanpa pressure saya kehilangan gairah hidup,”ia tertawa.

Ia menolak bekerja menjadi sekadar menjalankan rutinitas, mencari penghasilan semata. “Saya tidak mau bekerja seperti buruh yang digambarkan Marx, menjual tenaga kepada pemilik modal. Saya tidak merasa menjual tenaga saya. Saya menjalankan gagasan saya,” katanya tegas, mengutip pendapat Karl Marx. Gagasan yang dimaksud adalah melakukan perlawanan terhadap kekuasaan yang korup. “Korupsi adalah strategi untuk mempertahankan kekuasaan. Orang mengakses sumberdaya publik untuk menghidupi diri, kelompoknya, pada akhirnya mempertahankan kekuasaan. Pemberantasan korupsi adalah perlawanan terhadap kekuasaan. Intinya melawan kekuasaan yang korup.”

Ia lantas menunjukkan sebuah poster bergambar lelaki eksekutif sedang (maaf) mengencingi sesuatu bertuliskan Trickle Down Theory (ideologi pembangunan yang mendorong pertumbuhan ekonomi tinggi sehingga menimbulkan kelas kaya yang diasumsikan akan menetes ke bawah). “Teori itu tidak berlaku. Hanya kencingnya. Sengaja saya letakkan poster di sini, merupakan satu-satunya barang di ruangan ini yang sangat personal dan bermakna dalam, sekaligus membedakan ideologi ICW dengan Good Governance. Good Governance lebih ke pertimbangan ekonomi, efisien, dan efektivitas. Sementara ICW melihat pada hak masyarakat yang dikurangi, dan berpihak pada korban.”

Dengan posisinya, tentu ia harus bersikap konsisten untuk tidak memberi peluang terjadinya korupsi. Ini tidak mudah. Ia mencontohkan saat mengikuti prosedur mendapatkan surat ijin mengemudi (SIM) secara normal. Hasilnya: lima kali gagal! Saat investigasi ia baru menyadari, rupanya ia diperlakukan tidak adil. Banyak orang tidak ujian tapi lulus. “Akhirnya, saya berkelahi di setiap meja!,” ia tertawa. Intinya memang harus melawan, katanya.  Di sisi lain, aktivitasnya yang kritis seringkali membahayakan diri. Dipukuli atau menginap di kantor Kodim (semasa Orde Baru) bukan lagi hal yang asing. Bahkan beberapa tahun lalu, ia pernah dipukul seorang menteri saat debat langsung di sebuah siaran televisi!

“Sebenarnya saya penakut, tapi dalam kondisi tertentu saya harus lawan itu. Misalnya saat demo, karena dianggap sebagai pemimpin, saya harus berada di barisan terdepan dan berada di waktu paling akhir untuk berjaga-jaga seandainya ada teman diserang,” katanya. Ia takut, tapi ia sanggup menerima berbagai kemungkinan terburuk sebagai risiko. Keberanian itu selalu muncul dengan sendirinya dari kesadaran. Kata-kata dari alm Munir, salah satu pendiri ICW, diingatnya dengan tajam. “Kita harus takut pada rasa takut itu sendiri. Rasa takut akan menghilangkan kecerdasan. Saya sangat terinspirasi pada almarhum Cak Munir,” ujarnya.

Dengan risiko sedemikian besar, siapakah perempuan yang sanggup menjadi pendampingnya? Danang tergelak, menyebut sebuah nama yang ditemuinya pada saat rapat advokasi masyarakat antinuklir Indonesia di Semarang. Yosephine Dian Indraswari, adalah mantan aktivis, yang mampu memahami segala kegiatannya kini. Tanpa kekuatan istrinya, tentunya ia tak akan bisa menjalankan seluruh gagasannya. Tak mudah menerima dirinya yang waktunya disita oleh berbagai aktivitas, bahkan juga pada akhir pekannya. “Komitmen pada pekerjaan dan keluarga sama besarnya. Dia adalah orang yang sangat jujur, sederhana, tidak pernah silau dengan harta benda.”

Istrinya mengisahkan Danang sebagai pria romantis, meski kesibukannya luar biasa. “Ia mengirimkan puisi cinta pada saat ulang tahun saya minggu lalu,” Dian tersipu. Danang hanya tersenyum saat disinggung soal sifatnya yang romantis. “Surat-surat saya untuk istri itu seperti jurnalisme sastrawi. Ha ha ha,” ujar pecinta karya-karya Seno Gumira Adjidarma, Umberto Eco – yang mengkritisi gereja Katolik dengan sangat baik, Arundati Roy, dan Milan Kundera.  “Saya dari dulu suka nulis cerpen dan novel tapi tak pernah berhasil. Itu sebabnya saya menulis fakta saja,” ia adalah pengarang dari buku “Saksi yang Dibungkam”, diinspirasikan dari kisah nyata yang dibungkus dalam jurnalisme sastrawi.

Kisah buku tersebut mengingatkan kembali Danang pada rencana masa depannya. “Saya ingin menulis lagi dengan pendekatan jurnalisme sastrawi. Dengan demikian, buku akan lebih mudah dibaca, dan dibaca oleh lebih banyak orang,” katanya. Kali ini, ia tergerak untuk membukukan berbagai peristiwa yang ditemui dari universitas kehidupan sebagai hal yang tak terpisahkan dari perjuangannya.  (Rustika Herlambang)

http://rustikaherlambang.com/2012/06/05/danang-widoyoko/

 

Categories: Wawancara

Leave a Reply