Wawancara Indopos (?)

Aku lupa ini wawancara di media apa, baca edisi cetak juga tidak pernah. Syukur berhasil menemukan di arsip penulisnya  http://codoix.wordpress.com/2011/05/09/j-danang-widoyoko-tukang-insinyur-yang-pernah-dipukul-menteri/

 

J. Danang Widoyoko, Tukang Insinyur yang Pernah Dipukul Menteri

Posted by:  on: May 9, 2011

Dengan latar belakang gelar sarjana Teknik Elektro yang disandangnya, Johanes Danang Widoyoko justru memilih terjun di dunia LSM (lembaga swadaya masyarakat). Dan meski aktivitasnya selama 11 tahun di Indonesia Corruption Watch (ICW) disadarinya tidak memberikan jaminan materi berlimpah, ia tetap setia memilih hidup di jalurnya yang sekarang.

Ditemui di kantor ICW di bilangan Kalibata Jakarta Selatan, pertengahan pekan lalu, Danang Widoyoko baru selesai memimpin diskusi di kantor tersebut. “Ntar ya, saya mau makan dulu. Kamu sudah makan?” tanyanya dengan nada akrab, meski saat itu merupakan perjumpaan pertama kami. “Kalau nggak makan sekarang takutnya nanti nggak keburu. Habis ini ada acara lagi di daerah Sudirman,” ujarnya menjelaskan aktivitasnya seharian itu.

Sebagai penggiat LSM, hari-hari Danang memang disibukkan dengan berbagai diskusi, penelitian, dan menulis. Ia pun menceritakan awal keterlibatannya di ICW. Saal itu, pada 2000, tatkala Danang ikut membantu penelitian yang dilakukan ICW. “Kebetulan ada rekruitmen baru di ICW, lalu saya membantu penelitian tentang mafia peradilan, dan berlanjut sampai sekarang.” tuturnya menceritakan awal mula ia bergabung di ICW.

Ketertarikan Danang pada dunia LSM berawal ketika ia masih kuliah. Meski saat itu statusnya mahasiswa jurusan Teknik Elektro Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) di Salatiga, Jawa Tengah, dia seharusnya lebih banyak berkutat di lab komputer. Namun dalam kesehariannya. Danang justru sibuk menjadi aktivis pers kampus. Layaknya aktivis mahasiswa, ia pun getol mengkritisi segala macam kebijakan kampus yang dinilainya tidak benar.

Hingga pada 1994, terjadi kisruh pemilihan rektor di tempatnya menuntut ilmu. Akibatnya, salah seorang dosen, yakni Arief Budiman, yang juga dikenal sebagai aktivis mahasiswa 66 dipecat dari kampus tersebut. Sebagai bentuk protes, Danang pun menggalang rekan-rekannya melakukan aksi mogok kuliah.

“Setahun kami nggak ada aktivitas apa-apa. Tiap malam kerjanya cuma diskusi, dengerin ceramahnya Arief Budiman dan George Aditjondro,” luturnya menceritakan pengalaman masa kuliah.

“Melihal ceramah mereka berdua, mulai timbul ketertarikan saya. Menarik sekali ternyata masalah sosial ini. Padahal saat itu saya lagi senang-senangnya ngoprek komputer. Tapi melihat Arief Budiman yang orangnya sangat sederhana, namun berani. Lalu George Aditjondro itu yang ngomongnya provokatif banget Merekalah yang memberikan inspirasi kepada saya, bagaimana kita harus berjuang dengan konsisten,” tuturnya.

Usai tamat kuliah, Danang pun lebih memilih terjun di dunia LSM, dan bergabung di ICW. Sebelumnya ia juga sempat bekerja di sebuah LSM di Salatiga. Ilmu yang ditimbanya di Fakultas Teknik pun jadi jarang terpakai. “Dulu sih saya sempat nyari duitnya dengan memperbaiki komputer, instalasi komputer, pasang jaringan, dan macam-macam lah. Tapi sekarang malah agak lupa, karena sudah banyak teknologi baru,” katanya.

Selama 11 tahun mengabdi di ICW, banyak suka duka yang dirasakannya. Aktivitasnya di lembaga tersebut menyebabkan Danang banyak disuka, tapi juga banyak dibenci. Ancaman atau teror bukanlah barang baru bagi Danang dan rekan-rekannya.

“Didemo tiap hari, dilaporin polisi, itu sudah biasa. Resiko itu dihadapi semua teman-teman ICW. Namun kami bekerja di sini lebih banyak didorong semangat memperbaiki keadaan, semangat membuat perubahan. Kami ingin melihat lndonesia yang lebih baik, tidak ada korupsi, tak ada penyelewengan uang negara. Itu yang membuat kami semua bertahan. Dan semua ancaman itu justru menguatkan, bahwa apa yang kami dilakukan sudah benar,” katanya.

Tak hanya ancaman, Danang bahkan pernah dipukul Jacob Nuwawea, Menteri Tenaga Kerja di masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarno Putri. Waktu itu, tahun 2003, ada dialog live di salah satu televisi swasta. Kasus yang dibahas mengenai asuransi TKI. “Saya persoalkan mengenai asuransi TKI yang banyak aturan, dia malah marah-marah. Karena nggak bisa debat, di tengah-tengah talk show dia ngeplak kepala saya, lalu pergi,” tutur Danang sembari tertawa mengenang peristiwa tersebut.

Secara sederhana, lanjut Danang, ia sadar semua ancaman itu adalah tantangan. “Kalau mau dibunuh atau dipukul nggak bisa lari juga. Tapi minimal kami bisa mengantisipasinya, bisa belajar mempersulit upaya itu. Ada banyak masyarakat yang mendukung perjuangan kami, banyak yang memberikan support” katanya.

Selain masyarakat, dukungan keluarga juga dirasakan Danang sebagai kekuatannya untuk terus berjuang di ICW. “Keluarga mendukung, walaupun kadang-kadang ibu saya juga sering khawatir. Seminggu sekali beliau pasti nelepon. Maklumlah, namanya juga orang tua. Tapi sejauh ini keluarga mendukung, mereka itu kekuatan saya. Karena dukungan keluarga, saya makin semangat kerjanya,” tutur anak pertama dari tiga bersaudara tersebut.

Selama 11 tahun di ICW, diakui Danang telah memberikannya banyak pengalaman. Salah satunya pelajaran mengelola organisasi. “ICW bertahan sampai sekarang, itu suatu kebanggaan saya. Dulu ketika Teten Masduki jadi koordinator, saya juga yang mengelola manajemennya. Organisasi ini bagi saya adalah tempat belajar. Karyawan di sini para pembelajamya. Jadi mereka bekerja di ICW tidak sekadar mencari uang. Uang hanya hanyalah sekadar gaji, agar bisa terus hidup dan terus belajar. Intinya bagaimana mereka terus belajar.” jelasnya.

“Semua orang yang datang ke ICW harus belajar. Belajar itu tidak ada akhirnya. Bahkan, mereka pergi dari ICW juga terus belajar. Itu yang saya kira menarik dan membuat orang betah di sini. Bukan karena gajinya. Kalau gaji pasti kalah bersainglah dengan orang lain,” imbuhnya sembari tertawa.

ICW sendiri, kata Danang, juga telah memberikannya persepsi baru tentang dunia LSM. Selama ini kebanyakan aktivis LSM, kata dia, hanya bermodal keberanian. “Namun kami di ICW modalnya data. Saya ini dasarnya penakut, kalau diancam dipukul, ya lari saya. Tapi saya punya data. Kalau memang ada kebenaian, akan saya perjuangkan itu. Bukan lagi soal takut atau nggak takut, lapi masalah keadilan. Kalau saya diam, lain kali saya yang akan jadi korban. Jadi bagaimana kita melihat suatu ketidakadilan, bagaimana kita menyikapinya, dan korupsi adalah salah satu bentuk ketidakadilan,” katanya.

Lalu apa yang dirasakan Danang selama ini dalam perjuangannya melawan korupsi? Ternyata tidak mudah berjuang melawan korupsi, karena korupsi di Indonesia sekarang ini bukan lagi sekadar perilaku yang sifatnya personal, tapi sudah institusional, sudah dilembagakan,” ucapnya. “Dalam korupsi itu banyak yang diuntungkan. Bukan hanya satu atau dua orang, tapi semua orang yang masuk dalam sistem tersebut. Yang kita lawan bukan lagi orang perorangan, tapi melawan sebuah struktur, sebuah sistem yang dibangun dari alokasi dan distribusi korupsi tersebut,” katanya.

Karena itu. kata Danang, pendekatan penegakan hukum dalam melawan korupsi tidaklah cukup. “Memberantas korupsi memang perlu hukum, perlu KPK, tapi itu tidak cukup Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat melakukan perlawanan terhadap mereka yang melakukan korups itu. Berani melawan, berani menolak menjadi korban korupsi, itu yang paling penting. Kalau masyarakat berani menolak, maka akan terus muncul perlawanan terhadap praktek korupsi.

Kami khawatirya masyarakat justru tidak berani melawan atau menolak, dan tinggal ICW sendirian, maka itu adalah gagalan kami. Semoga saja nggak seperti itu,” pungkasnya.

Categories: Wawancara

Leave a Reply