Becoming blogger

Di tengah serbuan media sosial yang tanpa henti menggelontor informasi, ketenangan dan keheningan agaknya kini menjadi barang mewah. Tidak banyak waktu, energi dan perhatian yang memadai untuk mendapatkannya. Bombardir informasi membuat kita semua terus-menerus harus selalu up date.  Kalau tidak tahu perkembangan terbaru atau isu terkini,  terasa kita kehilangan eksistensi kita.  Maka eksistensi kita ditentukan bukan lagi oleh peran sosial kita di masyarakat, keluarga dan pekerjaan, tetapi seberapa cepat kita mampu mengkonsumsi informasi. Semakin banyak dan cepat kita mengkonsumsi informasi maka eksistensi kita akan semakin diakui. Barangkali ini yang disebut oleh sosiolog, terutama Zygmunt Bauman, sebagai masyarakat konsumsi. Berbeda dengan masyarakat produksi yang ditentukan oleh seberapa banyak anggota masyarakat menghasilkan sesuatu, dalam masyarakat konsumsi, anggota masyarakat ditentukan eksistensinya dari seberapa banyak mereka mampu mengkonsumsi. Dan konsumsi bukan lagi hanya barang manufaktur atau jasa, tetapi juga informasi.

Masyarakat post-modern ditandai oleh kaburnya batas antara produsen dan konsumen. Demikian juga dalam informasi. Batas antara wartawan yang memproduksi berita dan pembaca yang mengkonsumsi berita semakin kabur.  Pembaca adalah sekaligus wartawan, mengkonsumsi sekaligus memproduksi berita. Media sosial membuat batas itu semakin cepat menghilang. Lihatlah, beberapa media memantau apa yang ramai diperbincangkan di Twitter. Twitter bisa menjadi sumber berita atau berita itu sendiri.

Dengan menulis di blog barangkali saya akan menjadi bagian dari masyarakat konsumsi. Apalagi blog juga semakin mengaburkan batas antara konsumen dan produsen. Akan tetapi blog jelas menampung informasi yang lebih panjang dan lebih lengkap dari 140 karakter saja. Melalui blog, minimal saya akan mendapatkan sedikit keheningan karena saya dipaksa berhenti oleh blog untuk menulis. Semoga.

Categories: Uncategorized

Leave a Reply